Menggagas Judicial Activism dalam Putusan Presidential Threshold di Mahkamah Konstitusi

Bagus Surya Prabowo

Abstract


Penelitian ini memiliki tujuan untuk menjelaskan penerapan judicial activism yang dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi dan alasan perlunya Mahkamah Konstitusi menerapkan judicial activism dalam putusan presidential threshold melalui penelitian yuridis normatif dengan menjelaskan asas dan prinsip yang saling berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mahkamah Konstitusi cukup sering menggunakan judicial activism seperti pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU-V/2007 dan Nomor 102/PUU-VII/2009. Berdasarkan dua putusan itu setidaknya ada tiga pertimbangan Mahkamah Konstitusi dalam menerapkan judicial activism yang telah terpenuhi dalam kasus presidential threshold yaitu, 1) adanya diskriminasi politik, 2) adanya pelanggaran hak konstitusional, dan 3) terjadi kondisi darurat sosio-politik. Oleh karena itu Mahkamah Konstitusi telah memiliki dasar untuk membatalkan presidential threshold yang telah melanggar moralitas, rasionalitas, dan ketidakadilan yang intolerable. Dengan demikian seharusnya Mahkamah Konstitusi menggunakan judicial activism agar dapat memberikan putusan yang mengedepankan keadilan substantif sehingga bisa menghidupkan nilai kemanfaatan dan keadilan di masyarakat.

This study aims to explain the application of judicial activism carried out by the Constitutional Court and the reasons for the need for the Constitutional Court to apply judicial activism in the presidential threshold decision through normative juridical research by explaining interrelated principles. The study results show that the Constitutional Court often uses judicial activism as in the Decisions of the Constitutional Court Number 5/PUU-V/2007 and Number 102/PUU-VII/2009. Based on the two decisions, there are at least three considerations of the Constitutional Court in implementing judicial activism that has been fulfilled in cases of presidential threshold, namely, 1) political discrimination, 2) violations of constitutional rights, and 3) a socio-political emergency occurs. Therefore, the Constitutional Court has a basis for testing the threshold that violates morality, rationality, and intolerable injustice. Thus, the Constitutional Court should use judicial activism to give appreciation for substantial justice to revive the value of expediency and justice in society.


Keywords


Judicial Activism; Keadilan Substantif; Kegaduhan Politik; Presidential Threshold; Putusan Mahkamah Konstitusi.

Full Text:

PDF

References


BUKU

Asshidiqie, Jimly. Hukum Tata Negara & Pilar-Pilar Demokrasi. Jakarta: Sinar Grafika, 2010.

Budihardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia, 2002.

Hoesein, Zainal Arifin. Kekuasaan Kehakiman Di Indonesia. Jakarta: Imperium, 2013.

Huda, Ni’matul. Penataan Demokrasi Dan Pemilu Di Indonesia Pasca Reformasi. Jakarta: Kencana, 2017.

Manan, Bagir. Menegakkan Hukum Suatu Pencarian. Jakarta: Asosiasi Advokat Indonesia, 2009.

Pamungkas, Sigit. Perihal Pemilu. Yogyakarta: Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan dan Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM, 2009.

Riwanto, Agus. Desain Sistem Pemerintahan Antikorupsi. Malang: Setara Press, 2018.

Tanya, Bernard L, Yoan N Simanjuntak, and Markus Y Hage. Teori Hukum: Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang Dan Generasi. Yogyakarta: Genta Publishing, 2019.

Wiryanto. Etik Hakim Konstitusi: Rekonstruksi Dan Evolusi Sistem Pengawasan. Depok: Rajagrafindo Persada, 2019.

JURNAL

Amarini, Indriati. “Implementation of Judicial Activism in Judge’s Decision.” Jurnal Hukum Dan Peradilan 8, no. 1 (2019). https://doi.org/10.25216/jhp.8.1.2019.21-38.

Barak, Aharon. The Judge in a Democracy. The Judge in a Democracy, 2009. https://doi.org/10.5860/choice.44-2338.

Benuf, Kornelius, and Muhamad Azhar. “Metodologi Penelitian Hukum Sebagai Instrumen Mengurai Permasalahan Hukum Kontemporer.” Refleksi Hukum: Jurnal Ilmu Hukum 7, no. 1 (August 7, 2020): 20–33. https://doi.org/10.14710/gk.7.1.20-33.

Cross, Frank B., and Stefanie A. Lindquist. “The Scientific Study of Judicial Activism.” Minnesota Law Review, 2007.

Dwi Anggono, Bayu. “Perspektif Konstitusi Indonesia Pada Kerjasama Partai Politik Dalam Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden.” Pandecta: Research Law Journal 9, no. 1 (2014). https://doi.org/10.15294/pandecta.v9i1.3000.

Faiz, Pan Mohamad. “Dimensi Judicial Activism Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi.” Jurnal Konstitusi 13, no. 2 (2016). https://doi.org/10.31078/jk1328.

Ghoffar, Abdul. “Problematika Presidential Threshold: Putusan Mahkamah Konstitusi Dan Pengalaman Di Negara Lain.” Jurnal Konstitusi 15, no. 3 (2018). https://doi.org/10.31078/jk1532.

Gustomy, Rachmad. “Pandemi Ke Infodemi: Polarisasi Politik Dalam Wacana Covid-19 Pengguna Twitter.” JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan 5, no. 2 (2020). https://doi.org/10.14710/jiip.v5i2.8781.

Kmiec, Keenan D. “The Origin and Current Meanings of ‘Judicial Activism.’” California Law Review, 2004. https://doi.org/10.2307/3481421.

Lestari, Yeni Sri. “Politik Identitas Di Indonesia: Antara Nasionalisme Dan Agama.” Journal of Politics and Policy 1, no. 1 (2018).

Rodríguez-Garavito, César. “Beyond the Courtroom: The Impact of Judicial Activism on Socioeconomic Rights in Latin America.” Texas Law Review, 2011.

Wibisana, Andri Gunawan. “Menulis Di Jurnal Hukum: Gagasan, Struktur, Dan Gaya.” Jurnal Hukum & Pembangunan 49, no. 2 (2019). https://doi.org/10.21143/jhp.vol49.no2.2014.

Young, Ernest A. “Judicial Activism and Conservative Politics.” University of Colorado Law Review, 2002.

INTERNET

Mukhtar, Umar. “Jimly: Sebaiknya Ambang Batas Presiden 20 Persen Dihapus,” April 9, 2021. https://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/19/04/22/pqd2by377-jimly-sebaiknya-ambang-batas-presiden-20-persen-dihapus.

Widhana, Dieqy Hasbi. “Pilpres 2019: Aksi Walk Out, Bentrok, Hingga Cekcok Berujung Maut,” April 8, 2021. https://tirto.id/pilpres-2019-aksi-walk-out-bentrok-hingga-cekcok-berujung-maut-dmap.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Indonesia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (1945).

———. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Pub. L. No. 11 (2009).

PUTUSAN-PUTUSAN

Mahkamah Konstitusi. Putusan MK No. 102/PUU-VII/2009, Mahkamah Konstitusi 1–21 (2009).

———. Putusan MK No. 5/PUU-V/2007 (2007).

———. Putusan MK No. 51-52-59/PUU-VI/2008 (2008).

———. Putusan MK No. 53/PUU-XV/2017 (2017).

———. Putusan MK No. 74/PUU-XVIII/2020 (2020).




DOI: https://doi.org/10.31078/jk1914

Article Metrics

Abstract view : 335 times
PDF view : 135 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

       
(p-ISSN: 1829-7706 e-ISSN: 2548-1657).