Pemekaran Wilayah dan Otonomi Daerah Pasca Reformasi di Indonesia: Konsep, Fakta Empiris dan Rekomendasi ke Depan

Andik Wahyun Muqoyyidin

Abstract


Basically, the regional expansion is a form of regional autonomy and is one of the things that need to be considered because of the presence of regional expansion is expected to further maximize equitable regional development and regional development. In the spirit of regional autonomy was also the emerging paradigm of regional expansion to speed up the implementation of development, ease of public service to the community, as well as the acceleration of social welfare. In the reform era, the space for the area for the proposed establishment of a New Autonomous Region opened wide by the regional expansion policy based on Law no. 22, 1999. With such a policy, the policy of regional expansion is now more dominated by the political process rather than technocratic  process.


Keywords


Regional Expansion; Regional Autonomy; Reform

Full Text:

PDF

References


Ahmad Muzawwir, 2008, “Analisis Kebijakan Pemekaran Wilayah Kabupaten Batu Bara dalam Perspektif Peraturan Pemerintah No. 129 Tahun 2000”, Tesis, Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

A. Ubaedillah dan Abdul Rozak (Ed.), 2009, Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani, Jakarta: ICCE UIN Jakarta.

Deputi Menteri Sekretaris Negara Bidang Hubungan Kelembagaan, 2010, “Keynote Speech, Seminar Peran Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dalam Pemekaran Daerah: Sebuah Refleksi, Jakarta, 4 November.

Eska Miranda, 2011, “Pelaksanaan Otonomi Daerah Kota Sungai Penuh pasca Pemekaran”, Tesis, Padang: Universitas Andalas.

Fauzy Rizal, 2011, “Studi Kelayakan Teknis Garut Selatan Sebagai Kabupaten Baru Dengan Bantuan Aplikasi Perangkat Lunak”, Skripsi, Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Fitra Mailendra, 2009, “Analisis Dampak Pemekaran Wilayah Dan Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Pembangunan Manusia Di Propinsi Jawa Barat (Analisis Panel Data : Kabupaten/Kota di Propinsi Jawa Barat Periode 2002-2006)”, Skripsi, Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Garcia, J.G., 2000, “Indonesia’s Trade and Price Interventions: Pro-Java and Pro-Urban”, Bulletin of Indonesian Economic Studies, Volume 36, Issue 3, h. 93-112.

Kompas, 16 Februari 2002.

Kompas, 18 Februari 2002.

Mudrajad Kuncoro, 2002, Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia, Yogyakarta: UPP-AMP YKPN.

Mudrajad Kuncoro, 2004, Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi, Perencanaan, Strategi, dan Peluang, Jakarta: Erlangga.

Pheni Chalid, 2005, Otonomi Daerah: Masalah, Pemberdayaan, dan Konflik, Jakarta: Kemitraan.

Pratikno, 1999, “Posisi Dan Format Politik Daerah Dalam “Indonesia Baru”, http://www.detik.com/data-base/makalah/indonesia-baru.html, diunduh 25 November 2012.

Priyono, 2008, “Transmigrasi dalam Konteks Pemekaran Wilayah”, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Ketransmigrasian Depnakertrans Indonesia, volume 25, nomor 1, h. 48.

Riwanto Tirtosudarmo, 2008, “Paradigma dalam Kebijakan Desentralisasi di Indonesia: Sebuah Kritik terhadap Dominasi Public Administration School”, Jurnal Masyarakat & Budaya, volume 10, nomor 1, h. 28-45.

R. Joeniarto, 1992, Perkembangan Pemerintah Lokal, Jakarta: Bumi Aksara. Sidik Pramono dan Susie Berindra, 2006, “Pemekaran Tak Lagi Jadi “Obat” Mujarab”, Kompas, 30 Agustus (Politik & Hukum), h. 5.

Soemandjaja, 2007, “Menjernihkan Pemekaran Daerah”, http://artefaksi.blogspot.com/2007/08/menjernihkan-pemekaran-daerah.html, diunduh 26 November 2012.

Syaukani; Afan Gaffar dan M. Ryaas Rasyid, 2002, Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.




DOI: https://doi.org/10.31078/jk%25x

Article Metrics

Abstract view : 1736 times
PDF view : 1191 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.